Wednesday, August 7, 2013

Ramadhan,aku pura-pura rindu

Ramadhan, Aku Pura-pura Rindu
karya Azhar Nurun Ala

Ramadhan, ternyata selama ini kami cuma pura-pura merindukanmu.
Sejak dua bulan lalu ketika kami panjatkan doakepada Allah untuk disampaikan kepadamu, kami
selalu bilang kami begitu merindukanmu. Ketikaitu pula, kami selalu bilang kami tak sabar lagi
untuk berjumpa denganmu—takut rasanya, bilaternyata umur ini membuat kami tak punya
kesempatan untuk kita saling menyapa, salingmengisi, saling menyemangati. Akhirnya sampai
juga hari ini, bahkan sudah separuh Ramadhankami jalani.

Benar sekali, sukacita kami menyambut kehadiranmu. Apa lagi yang kami tunggu? Makapetasan meledak dan berisik di sana-sini, masjid-masjid kembali hidup, kitab-kitab dibersihkandari debu yang menyelimutinya entah sejakkapan—Ramadhan lalu barangkali, berbondong-bondong kami berangkat shalat taraweh meskiberat sebab perut kami masih dalam keadaan kenyang keterlaluan, pukul tiga acara televisisudah ramai dengan lawakan-lawakan yang tidak lucu, dan seperti biasa: lagu-lagu religi
diperdengarkan di mana-mana.Inikah juga yang kau harapkan wahai Ramadhan?

Tiap hari kami menghitung lembar-lembar kitab yang telah kami baca, kami tersenyum: sudah banyak, insyaallah targetan kami tercapai. Kami tak terlalu peduli apakah kitab yang bolak-balik kami baca itu kami mengerti atau tidak, apalagi mengamalkannya—kejauhan. Kami sudah sangat puas bila ada yang bertanya ‘sudah berapa lembar yang telah dibaca’ kami bisa menjawab:sudah khatam dua kali. Lalu mereka kagum.
Bukankah itu surga?
Tapi itukah sambutan yang sungguh kau
harapkan wahai Ramadhan?

Kami melihat agenda harian kami: Senin buka bersama dengan X, Selasa buka bersama dengan
Y, Rabu buka bersama dengan Z sekaligus Sahur on The Road, Kamis.. Jumat.. begitu seterusnya.
Begitulah cara kami merayakan kedatanganmu.Tarawih bisa dilewat karena sunnah, Shalat malam jangan ditanya, mana sanggup kamimenunaikannya. Malam-malam kami habiskan
dengan tidur dengan lelap karena lelah, jangan sampai kami kesiangan sahur apalagi ketinggalan
acara sahur favorit. Nanti kami dibilang tidak gaul.Shalat shubuh di Bulan Ramadhan bagi kami
adalah ritual penting menuju alam mimpi. Ya,kami tidur lagi karena tidur di Bulan Ramadhan
adalah ibadah.

Puasa kami tak pernah bolong barang sehari,sebagaimana lisan kami yang tak pernah lupa
jadwal amalan gibahnya. Kami begitu kuatmenahan lapar, dahaga, berahi, sebagaimana
kami begitu kuat menahan harta yang ada didompet kami—tak ada yang boleh menyentuhnya
sebab akan kami gunakan untuk lebaranmahameriah kami. Sesekali kami ingat ucapan penyair itu: ‘kau akan menjadi milik hartamu jikakau menahannya, dan jika kau menafkahkannya maka harta itu menjadi milikmu.’ Tapi siapa peduli. Lebaran tetaplah lebaran, merayakannya dengan kesederhanaan tak boleh jadi pilihan. Seperti itukah perlakuan yang ingin kau dapatkan wahai Ramadhan?

Kelak ketika Ramadhan berakhir, kami—dengan mengendarai mobil pribadi kami—akan
berkeliling mengunjungi saudara dan kerabat,bermaaf-maafan atau sekadar mencicip kue.Kami tentu senang, bahagia, karena katanya kami menang.

Ah, Ramadhan.
Entahlah, kami tak mengerti: barangkali kami
memang cuma pura-pura merindukanmu.


No comments: